Skip to main content

Pantaskah Aku mendapatkan Cinta?

Prolog

Sudah puaskah kau membaca rasa muak dalam diriku akan hidup?
Ya, sama, aku juga. Ya, aku pun begitu.
Aku muak setiap kali aku mengingat hidupku yang seperti sampah
Kali ini, bolehkah aku bercerita?
Tentang Cinta


Mawar

Pertama kali aku jatuh cinta
Mungkin 14 tahun yang lalu
Pada setangkai mawar merah merona
Hampir saja ada nyawa yang hilang
Kucabuti mawar itu satu per satu
Tanpa tahu bahwa penjaga kebun sudah berdiri di hadapanku
Saat itu, hanya bayangannya yang kusadari
Keringat dingin mengucur deras
Aku di ujung tanduk
Rupa-rupanya, Aku selamat
Tentunya dengan kompensasi yang setimpal
Aku tidak akan pernah dapat memiliki mawar itu
Memandangi dirinya saja membuatku malu
Mengingatkan aku akan betapa kotor, hinanya diriku
Patah hati beruntun muncul 
Ia diambil oleh Mawar putih
Dan rupa-rupanya, dari ketidakcocokan mereka
Ada mawar merah lainnya yang siap membantunya dalam proses penyerbukan
Sampai saat ini, keduanya bagai sulur-sulur yang saling terikat
Dengan duri penghalau hama
Tak terpisahkan


Permata

Kedua kali aku jatuh cinta
Mungkin 8 tahun lalu
Kala itu, aku tak sengaja bermain-bermain
Aku bertaruh dengan temanku
Mengangkat-angkat bidak, saling mengincar posisi Raja
Aku menang, mencundangi temanku
Kemenanganku kala itu, menghanyutkanku ke suatu cerita yang tak pernah terbayangkan sebelumnya
Sebut saja permata
Berkilauan di antara batuan lainnya
Kau tau, Permata hanya dapat digores oleh permata lainnya
Anggaplah diriku pun sama sepertinya
Ketika aku beradu tatap dengannya
Dirikulah yang tergores
Tak satu pun usahaku membuahkan kejora yang berkilap-kilap
Nihilisme
Satu tahun, seumpama orang idiot, berusaha menggoresnya
Gagal
Tiga tahun setelahnya, aku memusuhinya
Menganggap eksistensinya laksana bayangan yang memunggungiku
Tak satu kata pun kukeluarkan
Bahkan satu tatap pun tidak
Ketika ego Permata turun,  maka diriku menurunkan egonya pula
Dipuncaki oleh keikhlasan
Empat tahun setelahnya
Damai menyertai kami
Bagai permata yang dimiliki oleh masing-masing tuannya
Kami menikmati jalan kami masing-masing

Damai


Kekosongan pertama
Tiga tahun kehampaan
Kesenjangan di waktu antara Permata dan aku saling berdamai
Aku bertemu dengannya
Si Damai
Ia tidak sebegitu indah dibandingkan Mawar dan Permata yang kulihat sebelumnya
Meskipun namanya damai, tapi Ia penuh kegelisahan
Ditinggalkan oleh Raja
Demi selirnya yang lain
Kini hanya hanya berdua dengan Permaisuri sang Raja
Aku terpesona oleh kecerdikannya
Tapi itu tak cukup memikat
Sebab sang Damai tak berminat pula
Padaku yang sudah mulai kehilangan kepingan jiwa


Pemenang


Kekosongan berikutnya
Berhadap-hadapan dengan sang Pemenang
Aku berada di atasnya
Tidak sampai satu putaran Bumi terhadap Matahari
Kami seharusnya berada di inkubator yang sama
Tapi rupanya aku telat mengambil kaki
Begitu...
Pengagum rahasia, mungkin?
Harap-harap yang tak pernah tergapai itu akhirnya benar-benar pupus jadi abu
Di penghujung kehampaanku
Asyer mengatakan padaku
Jantungku berdegup kencang
Sembari Ia membaca telapak tanganku yang berkeringat
Dan apa yang Ia katakan adalah kenyataan yang kian menjadi-jadi 
Terealisasi
Katanya...
"Jika kau tak berhasil menjadi Pemenang sebelum bebas dari kehampaan pertama, maka sampai akhir pun tidak"
Ya... Sampai saat ini pun tidak


Takhta (Prolog)

Aku bebas dari kehampaan pertama
Memasuki kehampaan berikutnya
Empat tahun lamanya

Takhta (Epilog)
Sang Takhta
Bahkan sebelum aku memasuki ruang hampa keduaku
Aku sudah tau
Aku jatuh cinta padanya
Aku benar-benar menginginkannya
Kau tau, aku menjadi badut di antara badut lainnya
Dikuasai emosi, seakan-akan akulah yang terkuat
Dibutakan rasa takut, seakan-akan akulah kegagalan
Tapi rupanya..
Apa yang membutakan dan menguasai dirikulah yang benar
Orang sepertiku tak pantas memiliki Takhta
Seharusnya aku diceburkan saja ke rawa-rawa gelap di ujung kolam
Atau ditenggelamkan saja ke kolam tanpa dasar
Mimikri sebagai aktivis
Mencari-cari alasan untuk menduakan diri
Menjadi komandan media
Semata-mata hanya untuk mendekati posisi Takhta
Ia tak tersentuh seujung jari pun
Aku tahu sang Takhta ingin turun dari posisinya
Ia pun memiliki luka dalam hatinya
Ditinggalkan oleh sang Ratu, dan memilih mengikuti Rajanya
Melihat kedua kakaknya menapaki jalan yang berbeda
Ia sebagai eksistensi yang tak diharapkan, tak terduga
Bingung
Bahwasanya Ia mengharapkan dirinya tak pernah ada, sama sepertiku
Aku pun tahu
Aku tak bisa apa-apa
Di saat seharusnya aku ada di sana, aku tak sejajar dengannya
Tidak ada satu kesempatan yang pernah tampak di mataku
Aku tidak pantas dan tidak memantaskan diri

Epilog

Aku berharap Takhta membaca tulisan ini
Begitu pula dengan Mawar, Permata, Damai, dan Pemenang
Tapi tak mungkin, aku tak pernah mempublikasikan tulisanku
Kini hanya satu harapanku..
Tak peduli pantas atau tidaknya aku mendapatkan Cinta
Aku harap jawaban atas pertanyaanku terjawab
Entah kapan

Comments

Popular posts from this blog

Mati - Bagian 1

 4 Oktober 2020 Guratan takdir berkata lain Aku terhempas perlahan di imajinasi Dunia khayal tak pasti Aku direnggut, perlahan, senyap-senyap Kejap, kejap Fokusku hari ini hanya untukmu Dibayang-bayangku hanya ada dirimu Bagai cermin yang dilumuri darah Tak ada kemurnian yang terpantul di sana Hanya ada.. Tetes demi tetes  Aku menyangkal realita Hidup dalam kefanaan, kemunafikan Peluh dan isak jadi satu Bukan.. Ternyata bukan aku Akulah yang disangkal Penggal saja sampai habis Tertawai guyonanmu Aku bungkam menatapmu Oh.. Diriku yang lain Siapa namamu? Medali perak, medali emas Cahayanya melahapku hingga ke lumbung perutnya Arunika di pagi itu terang sekali Ah.. Bangsat! Tertipu sudah Kau pasti bingung bukan? Aku ini bicara apa Tenang, ini duniaku, tak sepatutnya kau masuki lebih jauh Cukup pandangi aku dari situ Tak usahlah terlibat lebih dalam Sebab penggapil kan kena celaka Pada akhirnya... Dalam kegelapan abadi, kumencari Dalam dusta dan amarah, kutangisi Dalam gemuruh yan...

Kompilasi

20 Desember 2021 Ia yang menukar takdir tak bisa lari dari keputusasaan Ia yang menukar mimpi tak bisa lari dari kegagalan Ia yang menukar jiwa tak bisa lari dari jerat kematian Ia yang berlari tak bisa menghindar dari segalanya Tetapi bagi siapapun yang mau menjalaninya, tak luput dari kesalahan, tak luput dari kemenangan Setiap hari, aku menjalani hidup yang tak berarti Terikat dan bebas di aliran waktu yang sama Tatapan penuh kebencian Si bejat yang bersemayam dalam benakku Sang penjaga hari ini runtuh Penantian 1000 tahun lamanya Atau hanya sepersekian detik nyatanya Apakah yang runtuh adalah langit Ataukah air mata yang ada di ujung kelopakmu? Akankah ada kebenaran di balik kematian Ataukah kopi pahit yang menanti di sana? Derit-derit karat di sepanjang jalan Bernodakan darah dari korban kemunafikan Tekuk-lekuk kemesraan Bernodakan mani dari karya gagal Tuhan Mau kemanakah engkau, Tuanku? Mari ikut bersamaku, ke ujung dunia, di mana harap dan tangis tak pernah ada Mari akhiri ini ...

Mati - Bagian 2

4 Oktober 2020 Ketika itu, aku mati Membiru, membisu Kupejamkan mataku dengan sengaja Ataukah itu karena ketidakmampuan Mendadak kuterbelalak Ada diriku yang lain  Tersenyum kecut pucat pasi Aku tak sadarkan diri Hilang saja dari semesta tak bertuan Kembang kempis tak berarah Senjaku dirampas olehmu dan olehnya Sukmaku menggigil Sang Ajal tak lagi hadir di sampingku Dewa maut pun takut olehku Bahkan namaku tak tercatat di bukunya Satu demi satu ku terurai Kubentangkan dadaku, kulapangkan hasratku Hai kamu, jiwa-jiwa fana Kuharap kita kan bertemu Mungkin 1000 tahun lagi Di semestaku, aliran jiwa-jiwa maut Di semestaku yang takkan tercapai olehmu