4 Oktober 2020
Guratan takdir berkata lain
Aku terhempas perlahan di imajinasi
Dunia khayal tak pasti
Aku direnggut, perlahan, senyap-senyap
Kejap, kejap
Fokusku hari ini hanya untukmu
Dibayang-bayangku hanya ada dirimu
Bagai cermin yang dilumuri darah
Tak ada kemurnian yang terpantul di sana
Hanya ada.. Tetes demi tetes
Aku menyangkal realita
Hidup dalam kefanaan, kemunafikan
Peluh dan isak jadi satu
Bukan.. Ternyata bukan aku
Akulah yang disangkal
Penggal saja sampai habis
Tertawai guyonanmu
Aku bungkam menatapmu
Oh.. Diriku yang lain
Siapa namamu?
Medali perak, medali emas
Cahayanya melahapku hingga ke lumbung perutnya
Arunika di pagi itu terang sekali
Ah.. Bangsat!
Tertipu sudah
Kau pasti bingung bukan?
Aku ini bicara apa
Tenang, ini duniaku, tak sepatutnya kau masuki lebih jauh
Cukup pandangi aku dari situ
Tak usahlah terlibat lebih dalam
Sebab penggapil kan kena celaka
Pada akhirnya...
Dalam kegelapan abadi, kumencari
Dalam dusta dan amarah, kutangisi
Dalam gemuruh yang berontak, kutenangi
Dalam raungan keputusasaan, kubunuhi
Dalam nyanyian penuh harapan, kusayupi
Aku adalah Aku
Pada akhirnya, ideologi pasti runtuh
Yang dibendung pasti banjir
Cinta tak berujung, mutlak dan absolut
Ketika itu, aku lepas, aku lega, aku pasrah
Ketika itu, aku mati
Comments
Post a Comment