Skip to main content

Mati - Bagian 1

 4 Oktober 2020


Guratan takdir berkata lain

Aku terhempas perlahan di imajinasi

Dunia khayal tak pasti

Aku direnggut, perlahan, senyap-senyap

Kejap, kejap


Fokusku hari ini hanya untukmu

Dibayang-bayangku hanya ada dirimu

Bagai cermin yang dilumuri darah

Tak ada kemurnian yang terpantul di sana

Hanya ada.. Tetes demi tetes 


Aku menyangkal realita

Hidup dalam kefanaan, kemunafikan

Peluh dan isak jadi satu

Bukan.. Ternyata bukan aku

Akulah yang disangkal


Penggal saja sampai habis

Tertawai guyonanmu

Aku bungkam menatapmu

Oh.. Diriku yang lain

Siapa namamu?


Medali perak, medali emas

Cahayanya melahapku hingga ke lumbung perutnya

Arunika di pagi itu terang sekali

Ah.. Bangsat!

Tertipu sudah


Kau pasti bingung bukan?

Aku ini bicara apa

Tenang, ini duniaku, tak sepatutnya kau masuki lebih jauh

Cukup pandangi aku dari situ

Tak usahlah terlibat lebih dalam

Sebab penggapil kan kena celaka


Pada akhirnya...

Dalam kegelapan abadi, kumencari

Dalam dusta dan amarah, kutangisi

Dalam gemuruh yang berontak, kutenangi

Dalam raungan keputusasaan, kubunuhi

Dalam nyanyian penuh harapan, kusayupi


Aku adalah Aku

Pada akhirnya, ideologi pasti runtuh

Yang dibendung pasti banjir

Cinta tak berujung, mutlak dan absolut

Ketika itu, aku lepas, aku lega, aku pasrah

Ketika itu, aku mati


Comments

Popular posts from this blog

Kompilasi

20 Desember 2021 Ia yang menukar takdir tak bisa lari dari keputusasaan Ia yang menukar mimpi tak bisa lari dari kegagalan Ia yang menukar jiwa tak bisa lari dari jerat kematian Ia yang berlari tak bisa menghindar dari segalanya Tetapi bagi siapapun yang mau menjalaninya, tak luput dari kesalahan, tak luput dari kemenangan Setiap hari, aku menjalani hidup yang tak berarti Terikat dan bebas di aliran waktu yang sama Tatapan penuh kebencian Si bejat yang bersemayam dalam benakku Sang penjaga hari ini runtuh Penantian 1000 tahun lamanya Atau hanya sepersekian detik nyatanya Apakah yang runtuh adalah langit Ataukah air mata yang ada di ujung kelopakmu? Akankah ada kebenaran di balik kematian Ataukah kopi pahit yang menanti di sana? Derit-derit karat di sepanjang jalan Bernodakan darah dari korban kemunafikan Tekuk-lekuk kemesraan Bernodakan mani dari karya gagal Tuhan Mau kemanakah engkau, Tuanku? Mari ikut bersamaku, ke ujung dunia, di mana harap dan tangis tak pernah ada Mari akhiri ini ...

Mati - Bagian 2

4 Oktober 2020 Ketika itu, aku mati Membiru, membisu Kupejamkan mataku dengan sengaja Ataukah itu karena ketidakmampuan Mendadak kuterbelalak Ada diriku yang lain  Tersenyum kecut pucat pasi Aku tak sadarkan diri Hilang saja dari semesta tak bertuan Kembang kempis tak berarah Senjaku dirampas olehmu dan olehnya Sukmaku menggigil Sang Ajal tak lagi hadir di sampingku Dewa maut pun takut olehku Bahkan namaku tak tercatat di bukunya Satu demi satu ku terurai Kubentangkan dadaku, kulapangkan hasratku Hai kamu, jiwa-jiwa fana Kuharap kita kan bertemu Mungkin 1000 tahun lagi Di semestaku, aliran jiwa-jiwa maut Di semestaku yang takkan tercapai olehmu