4 Oktober 2020 Memaknai damai itu lebih dari sekadar memaknai hidup Sebab hidup adalah hamba dari keputusasaan Dan mati adalah majikannya Pernah juga kupikirkan, bagaimana mengakali hidup, 'tuk mati di saat yang sama Dua fase, dua siklus, keabadian, dia yang selalu mengurung kita selamanya Kebencianku semakin besar Pada diriku sendiri Pada sampah tak berguna Sayup-sayup tenggelam dalam amarah Emosi tak berdasar, emosi bara api Andai tak ada teori neraka, sudah pasti ku bunuh diri Damai sejahtera bersamaku Damai sejahtera bersamamu Mati, mati, dan mati Tiga kata lumbung padi Ialah penyelamatku Seandainya aku mati, ternyata damai tak menungguku Lantas apa yang menunggu di penghujung jalanku? Apa yang menunggu di penghujung ceritaku? Atau jangan bilang bahwa ini bukan akhir? Ya, kehidupan tak pernah berakhir Karena perkembangan jiwa adalah mutlak dan ketidaksempurnaan adalah murni Maka kutuai apa yang kutabur, kumaknai, kutangisi Jalan kita yang beriris ini pasti berubah semakin lama...