Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2020

Mati - Bagian 3

4 Oktober 2020 Memaknai damai itu lebih dari sekadar memaknai hidup Sebab hidup adalah hamba dari keputusasaan Dan mati adalah majikannya Pernah juga kupikirkan, bagaimana mengakali hidup, 'tuk mati di saat yang sama Dua fase, dua siklus, keabadian, dia yang selalu mengurung kita selamanya Kebencianku semakin besar Pada diriku sendiri Pada sampah tak berguna Sayup-sayup tenggelam dalam amarah Emosi tak berdasar, emosi bara api Andai tak ada teori neraka, sudah pasti ku bunuh diri Damai sejahtera bersamaku Damai sejahtera bersamamu Mati, mati, dan mati Tiga kata lumbung padi Ialah penyelamatku Seandainya aku mati, ternyata damai tak menungguku Lantas apa yang menunggu di penghujung jalanku? Apa yang menunggu di penghujung ceritaku? Atau jangan bilang bahwa ini bukan akhir?  Ya, kehidupan tak pernah berakhir Karena perkembangan jiwa adalah mutlak dan ketidaksempurnaan adalah murni Maka kutuai apa yang kutabur, kumaknai, kutangisi Jalan kita yang beriris ini pasti berubah semakin lama...

Mati - Bagian 2

4 Oktober 2020 Ketika itu, aku mati Membiru, membisu Kupejamkan mataku dengan sengaja Ataukah itu karena ketidakmampuan Mendadak kuterbelalak Ada diriku yang lain  Tersenyum kecut pucat pasi Aku tak sadarkan diri Hilang saja dari semesta tak bertuan Kembang kempis tak berarah Senjaku dirampas olehmu dan olehnya Sukmaku menggigil Sang Ajal tak lagi hadir di sampingku Dewa maut pun takut olehku Bahkan namaku tak tercatat di bukunya Satu demi satu ku terurai Kubentangkan dadaku, kulapangkan hasratku Hai kamu, jiwa-jiwa fana Kuharap kita kan bertemu Mungkin 1000 tahun lagi Di semestaku, aliran jiwa-jiwa maut Di semestaku yang takkan tercapai olehmu

Mati - Bagian 1

 4 Oktober 2020 Guratan takdir berkata lain Aku terhempas perlahan di imajinasi Dunia khayal tak pasti Aku direnggut, perlahan, senyap-senyap Kejap, kejap Fokusku hari ini hanya untukmu Dibayang-bayangku hanya ada dirimu Bagai cermin yang dilumuri darah Tak ada kemurnian yang terpantul di sana Hanya ada.. Tetes demi tetes  Aku menyangkal realita Hidup dalam kefanaan, kemunafikan Peluh dan isak jadi satu Bukan.. Ternyata bukan aku Akulah yang disangkal Penggal saja sampai habis Tertawai guyonanmu Aku bungkam menatapmu Oh.. Diriku yang lain Siapa namamu? Medali perak, medali emas Cahayanya melahapku hingga ke lumbung perutnya Arunika di pagi itu terang sekali Ah.. Bangsat! Tertipu sudah Kau pasti bingung bukan? Aku ini bicara apa Tenang, ini duniaku, tak sepatutnya kau masuki lebih jauh Cukup pandangi aku dari situ Tak usahlah terlibat lebih dalam Sebab penggapil kan kena celaka Pada akhirnya... Dalam kegelapan abadi, kumencari Dalam dusta dan amarah, kutangisi Dalam gemuruh yan...