Skip to main content

Kompilasi

20 Desember 2021


Ia yang menukar takdir tak bisa lari dari keputusasaan

Ia yang menukar mimpi tak bisa lari dari kegagalan

Ia yang menukar jiwa tak bisa lari dari jerat kematian

Ia yang berlari tak bisa menghindar dari segalanya

Tetapi bagi siapapun yang mau menjalaninya, tak luput dari kesalahan, tak luput dari kemenangan


Setiap hari, aku menjalani hidup yang tak berarti

Terikat dan bebas di aliran waktu yang sama

Tatapan penuh kebencian

Si bejat yang bersemayam dalam benakku


Sang penjaga hari ini runtuh

Penantian 1000 tahun lamanya

Atau hanya sepersekian detik nyatanya

Apakah yang runtuh adalah langit

Ataukah air mata yang ada di ujung kelopakmu?

Akankah ada kebenaran di balik kematian

Ataukah kopi pahit yang menanti di sana?


Derit-derit karat di sepanjang jalan

Bernodakan darah dari korban kemunafikan

Tekuk-lekuk kemesraan

Bernodakan mani dari karya gagal Tuhan


Mau kemanakah engkau, Tuanku?

Mari ikut bersamaku, ke ujung dunia, di mana harap dan tangis tak pernah ada

Mari akhiri ini bersama-sama, sebab waktu kita hampir tak bersisa


Comments

Popular posts from this blog

Mati - Bagian 1

 4 Oktober 2020 Guratan takdir berkata lain Aku terhempas perlahan di imajinasi Dunia khayal tak pasti Aku direnggut, perlahan, senyap-senyap Kejap, kejap Fokusku hari ini hanya untukmu Dibayang-bayangku hanya ada dirimu Bagai cermin yang dilumuri darah Tak ada kemurnian yang terpantul di sana Hanya ada.. Tetes demi tetes  Aku menyangkal realita Hidup dalam kefanaan, kemunafikan Peluh dan isak jadi satu Bukan.. Ternyata bukan aku Akulah yang disangkal Penggal saja sampai habis Tertawai guyonanmu Aku bungkam menatapmu Oh.. Diriku yang lain Siapa namamu? Medali perak, medali emas Cahayanya melahapku hingga ke lumbung perutnya Arunika di pagi itu terang sekali Ah.. Bangsat! Tertipu sudah Kau pasti bingung bukan? Aku ini bicara apa Tenang, ini duniaku, tak sepatutnya kau masuki lebih jauh Cukup pandangi aku dari situ Tak usahlah terlibat lebih dalam Sebab penggapil kan kena celaka Pada akhirnya... Dalam kegelapan abadi, kumencari Dalam dusta dan amarah, kutangisi Dalam gemuruh yan...

Mati - Bagian 2

4 Oktober 2020 Ketika itu, aku mati Membiru, membisu Kupejamkan mataku dengan sengaja Ataukah itu karena ketidakmampuan Mendadak kuterbelalak Ada diriku yang lain  Tersenyum kecut pucat pasi Aku tak sadarkan diri Hilang saja dari semesta tak bertuan Kembang kempis tak berarah Senjaku dirampas olehmu dan olehnya Sukmaku menggigil Sang Ajal tak lagi hadir di sampingku Dewa maut pun takut olehku Bahkan namaku tak tercatat di bukunya Satu demi satu ku terurai Kubentangkan dadaku, kulapangkan hasratku Hai kamu, jiwa-jiwa fana Kuharap kita kan bertemu Mungkin 1000 tahun lagi Di semestaku, aliran jiwa-jiwa maut Di semestaku yang takkan tercapai olehmu