Skip to main content

Memulai Kembali

5 Mei 2020.
Saatnya memulai kembali apa yang sempat meredup, membarakannya kembali.
Di dalam sukma terdalam.

Ada siklus yang tidak pernah berakhir, kecuali ketika kita tidak lagi "hidup".
Ada rantai yang tidak pernah putus, sekalipun kita ingin memutuskannya.
Ada penyesalan yang tidak pernah hilang, sekalipun kita mencoba melupakannya.
Ada amarah yang tak terbendung, sekalipun diri ini sudah memaafkan.
Ada rasa yang tidak pernah sampai, sekalipun jiwa ini mencoba meraihnya.
Ada kata yang tak terucap yang hanya dapat disimpan oleh kita sendiri.

Sakit. Pasti.
Tapi. ini racun.
Merusak diri, menghambat perkembangan jiwa.
Kita berpikir bahwa takdirlah yang membuat kita lahir ke dunia.
Bukan. Kitalah yang menentukan kita lahir ke dunia.
Untuk apa kalau bukan untuk belajar. Membayar yang lalu.
Belajar bisa mulai dari hal-hal remeh.
Kalau saat ini belum bisa, lakukan esok hari. Setidaknya ada nilai yang kita miliki, ada perkembangan yang kita dapat, sekecil apapun itu.
Anggaplah  kekurangan yang didapat sebagai pembayaran.
Anggaplah segala keuntungan yang diberi sebagai pelunasan.
Sampai pada akhirnya kita sadar, pada akhirnya kita sampai ke tempat tujuan segala jiwa.

Tulisan ini boleh untuk siapa saja. Aku. Kamu. Kita. Dia. Siapapun.
Tapi hendaknya kita semua paham.
Bahwa racun-racun yang kita bawa ini hendaknya kita ikhlaskan saja. Lepaskan. Buang jauh-jauh.
Terlalu berat bagi kita saat ini untuk melakukan segalanya dalam satu tahapan.
Tapi kita percaya bahwa pembelajaran tidak pernah berakhir.

Api jiwa tidak pernah padam, seperti semesta yang terus meluas, api jiwa ini akan terus naik atau turun selamanya, sebelum rantainya terputus, bersatu dengan semesta itu sendiri.

Jujur saja, aku ragu.
Padahal, aku bukan siapa-siapa. 
Tapi, aku takut kehilanganmu. Takut kehilangan dirimu yang saat ini. Takut ketika pandanganku melihat dirimu yang berpindah. Entah apa itu, pegangan atau bukan, atas dasar orang tua atau bukan.
Aku tidak bisa apa-apa. Aku bukanlah siapa-siapa. Dibandingkan dirimu.
Padahal, jasadku saat ini adalah lelaki.
Sulit bagiku menerimanya, tapi apa daya bukan?
Mungkin, benang merahmu ada hanya untuk lewat saja, terjalin tipis denganku.
Mungkin, cengkeraman kita tidak seseru itu. Mungkin, Kau anggap aku aneh. Mungkin, Aku menganggapmu berlebihan, dan Kau menganggapku hanya sekedar angin lalu.
Aku tak bisa sampaikan langsung, tapi Aku tau, meskipun tidak dibaca dan harus dipendam, aku bisa menyampaikannya lewat tulisan ini.

Salam, hai jiwa-jiwa lemah.
Semoga pertemuan selanjutnya menjadi lebih hangat.
Sampai jumpa lagi di lain waktu.

Comments

Popular posts from this blog

Mati - Bagian 1

 4 Oktober 2020 Guratan takdir berkata lain Aku terhempas perlahan di imajinasi Dunia khayal tak pasti Aku direnggut, perlahan, senyap-senyap Kejap, kejap Fokusku hari ini hanya untukmu Dibayang-bayangku hanya ada dirimu Bagai cermin yang dilumuri darah Tak ada kemurnian yang terpantul di sana Hanya ada.. Tetes demi tetes  Aku menyangkal realita Hidup dalam kefanaan, kemunafikan Peluh dan isak jadi satu Bukan.. Ternyata bukan aku Akulah yang disangkal Penggal saja sampai habis Tertawai guyonanmu Aku bungkam menatapmu Oh.. Diriku yang lain Siapa namamu? Medali perak, medali emas Cahayanya melahapku hingga ke lumbung perutnya Arunika di pagi itu terang sekali Ah.. Bangsat! Tertipu sudah Kau pasti bingung bukan? Aku ini bicara apa Tenang, ini duniaku, tak sepatutnya kau masuki lebih jauh Cukup pandangi aku dari situ Tak usahlah terlibat lebih dalam Sebab penggapil kan kena celaka Pada akhirnya... Dalam kegelapan abadi, kumencari Dalam dusta dan amarah, kutangisi Dalam gemuruh yan...

Kompilasi

20 Desember 2021 Ia yang menukar takdir tak bisa lari dari keputusasaan Ia yang menukar mimpi tak bisa lari dari kegagalan Ia yang menukar jiwa tak bisa lari dari jerat kematian Ia yang berlari tak bisa menghindar dari segalanya Tetapi bagi siapapun yang mau menjalaninya, tak luput dari kesalahan, tak luput dari kemenangan Setiap hari, aku menjalani hidup yang tak berarti Terikat dan bebas di aliran waktu yang sama Tatapan penuh kebencian Si bejat yang bersemayam dalam benakku Sang penjaga hari ini runtuh Penantian 1000 tahun lamanya Atau hanya sepersekian detik nyatanya Apakah yang runtuh adalah langit Ataukah air mata yang ada di ujung kelopakmu? Akankah ada kebenaran di balik kematian Ataukah kopi pahit yang menanti di sana? Derit-derit karat di sepanjang jalan Bernodakan darah dari korban kemunafikan Tekuk-lekuk kemesraan Bernodakan mani dari karya gagal Tuhan Mau kemanakah engkau, Tuanku? Mari ikut bersamaku, ke ujung dunia, di mana harap dan tangis tak pernah ada Mari akhiri ini ...

Mati - Bagian 2

4 Oktober 2020 Ketika itu, aku mati Membiru, membisu Kupejamkan mataku dengan sengaja Ataukah itu karena ketidakmampuan Mendadak kuterbelalak Ada diriku yang lain  Tersenyum kecut pucat pasi Aku tak sadarkan diri Hilang saja dari semesta tak bertuan Kembang kempis tak berarah Senjaku dirampas olehmu dan olehnya Sukmaku menggigil Sang Ajal tak lagi hadir di sampingku Dewa maut pun takut olehku Bahkan namaku tak tercatat di bukunya Satu demi satu ku terurai Kubentangkan dadaku, kulapangkan hasratku Hai kamu, jiwa-jiwa fana Kuharap kita kan bertemu Mungkin 1000 tahun lagi Di semestaku, aliran jiwa-jiwa maut Di semestaku yang takkan tercapai olehmu